20110108

Perempuan Tak Bersayap

Seorang perempuan tak bersayap adalah seorang perempuan yang begitu kuat dalam pendirian, memiliki kekurangan dalam dirinya namun ia selalu menyadari atas kekurangannya dan ia selalu merasa bersyukur. Dengan semua masalah yang pernah ia hadapi, saat bagaimana ia menghadapi rasa sakit yang menerkamnya begitu menyadarkan ia tentang ketakberdayaan yang harus tetap survive dengan hidupnya, perempuan tak bersayap bukan siapa-siapa yang mampu untuk mengubah takdir hidupnya. Penderitaan telah menjadi bagian dari perjalanannya untuk menggapai sebuah istana kebahagiaan yang ia bangun dengan tetesan air mata dan getir perjuangan, namun demikian ia sadar masih jauh untuk digapai dengan tangannya dan masih terlalu jauh pula harapan yang ia punya. Asa membayangi tiap langkahnya, yang membuat gontai dan tertatih untuk mencapai tujuan, sesak dadanya meratapi kepiluan yang hadir dalam hidupnya, walaupun demikian senyum perempuan tak bersayap adalah pelipur lara hatinya saat masih bisa diberikan untuk orang yang dicintainya, ia selalu mengingat sebuah nasihat yang pernah ia baca dari buku “jangan berhenti dan jangan berkata tidak, jika kamu masih mau mencoba”....tangisnya makin tak bisa disembunyikan, lehernya seperti tercekik tangan kuat sekali, begitu sulit berjuang melonggarkan tenggorokannya coba tegar namun perjuangan itu berujung air mata juga. Begitu remuk hatinya, ia tak merasa dirinya lemah tapi ia juga tak bisa mengakui hatinya telalu kuat untuk menerima semua yang terjadi dalam hidupnya, tapi apapun ia mampu hadapi dengan semestinya, bisa menerima semua sebagai pelajaran hidup yang harus ia jalani dan bukan alasan untuk berhenti dan menyerahkan pada nasib hidupnya begitu saja, karena ia selalu merindukan kebahagiaan yang pasti masih bisa ia raih, walaupun dalam kurun waktu yang lama ataupun sesegeranya ia dapat, karena ia tak pernah mengetahuinya. Perempuan tak bersayap berharap selalu berusaha dengan baik pada setiap hal yang dapat ia lakukan untuk orang disekitarnya, untuk orang-orang yang disayanginya, dan untuk orang yang dicintainya, walaupun semua belum dirasa sempurna dalam usahanya, tapi perempuan tak bersayap selalu mempunyai rasa untuk mengakui pada dirinya sendiri akan kekurangan dalam melakukannya, tapi itulah usahanya agar bermanfaat untuk orang lain. Perempuan tak bersayap merasa yakin air mata yang kadang mengiringi kesendiriannya, yang mengiris hatinya saat meresapi relung-relung kosong, ia juga perlu menyadari semua itu adalah bentuk liku-liku kehidupannya yang masih tetap harus berjalan, ketegarannya yang akan membimbingnya ke jalan kebahagiaan yang ia impikan. Perempuan tak bersayap terkadang merasa rapuh dan tak kuat untuk melewati ini semua sendirian, namun ia merasa tak fair jika hanya tinggal diam saja, meski sadar dengan keadaan dirinya apalagi jika  air matanya keluar sia-sia. Walau bagaimanapun keadaannya, ia tak ingin semakin rapuh, bahkan membiarkan dirinya sempat terjatuh meski sudah usaha membangun pertahanan, ia  tak mau menjatuhkan pengharapan yang lainnya. Hidup ini penuh kesinambungan dan terus berlanjut, jika ia sudah tidak bisa berlari tapi ia  masih bisa untuk melangkah bahkan dengan merangkak sekalipun akan ia lakukan walau dengan pelan tapi akan menjemput kepastian dengan daya dan upaya yang sepantasnya masih bisa ia lakukan. Masih ada banyak cara yang bisa ia lakukan, masih ada hal terbaik yang mesti bisa untuk menuntunnya kedepan, sederhananya jalan yang ia  tempuh ataupun rumitnya ia kan berusaha demi kebahagiaannya, juga orang-orang yang ia sayangi. Begitu banyaknya mimpi-mimpi yang ia banggakan, pandangannya yang jauh menerawang dan menuju imajinasi penuh keindahan, bahwasanya ia memang menginginkan kebahagiaan yang nyata dan bukan kebahagiaan diatas kepalsuan, dimana tempatnya yah hanya pada Allah SWT. tempatnya meminta. PadaNYA ia selalu memohon atas harapan dalam hidupnya dan mimpi yang selalu ia damba, mengikuti arus waktu yang membawanya pada kedewasaan dalam pemikiran-pemikiran yang membuat hatinya resah, gelisah, sebagai mana layaknya manusia merindukan masa depan yang cemerlang, seseorang yang juga punya hati dan perasaan, dimana ia akan menemukan sayapnya, siapa yang akan memberikan sayap padanya kemana harusnya ia mencari untuk kedamaian hatinya yang mengerti tentang indahnya cinta dan kasih sayang yang menemani dalam perjalanannya ketika ia tersesat tak tahu arah untuk membangun istananya.


-Mahadewi Kecil

Cerita ini hanya fiktif belaka...
Terima kasih sudah bersedia membaca, silakan tinggalkan komentar..

20110107

Senja Biru

                                                         dok. Pantai Maron, Semarang 
                                                            Oleh: Mahadewi Kecil
senja biru bagian 1....


sepoi angin mencumbui halus mesra tubuh kita
ombak bekejar-kejaran terpecah
datang dan meninggalkan kembali
saling memandu suara dengan kompak
manjadi batas laut dan darat
sempat kuguratkan tulisan penting mengenai kita
namun tak mau kalah denganku
mungkin tak rela aku tinggalkan sesuatu
ia menyapu habis tanpa bekas, uhh...malangnya 
terus saja menggoda
yang seolah ingin membawa kita ke samudera
dibuatnya kita tertawa
mungkin ingin mengajak bermain-main
namun kita miliki batas waktu saat itu 
senja segera berlalu
bisikan-bisikan lembut sang bayu
seolah memberi tahu
sudahi senja biru..


Senja Biru, Mahadewi Kecil

Tentang Keinginan

                                                                                           Dok. BSB, Semarang oleh: Mahadewi Kecil
01.05
malam ini ingin kuseleseikan dengan baik
waktu terasa begitu syahdu
yah...dengan iringan musik klasik yang menemani
rasa kantuk pun terlupakan
aku masih punya pena lebih dari satu 
kalau sudah habis yang satu, aku masih punya pena yang lain
aku bermain-main  pena, dengan sesuka hatiku
namun sungguh, malam ini ingin kuseleseikan dengan baik
caraku menuliskan tentang sesuatu,
tentang keinginan, tentang harapan
tentang ketakutan, tentang resiko
bahkan terlalu banyak yang ingin ku tuliskan yang hubungannya dengan “tentang”
namun aku ingin seleseikan satu saja malam ini
hingga  mataku tertutup

-de' Kecil
Semarang, 07 Januari 2011

20110106

Januari

''Meski tahun baru 2010 sudah berlalu dan sudah menjalani sampai hari ke 6 di bulan Januari 2011 masih suasana tahun baru. Dengan segala rasa dan harapan sisa tahun lalu, kini  masih tetap ada, bahkan pergantian tahun tak ada perbedaannya mungkin belum, karena ini masih awal jadi belum terasa . Tapi pikiran tak pernah berhenti meski sejenak saja, tentang harapan terjadinnya perubahan sebelum semua terlambat. Hari demi hari berlalu meski namanya tak berganti yaitu masih utuh Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, lantas saat demi saat berlalu begitu saja sadarkah waktu yang ada untuk kita, sanggupkah  mengejar ketertinggalan yang mungkin sudah jauh ??? ya mungkin patut untuk direnungi.....''

_de' kecil
06 Januari 2011

Just For Us

                                           Dok. Semester 1 oleh: Mahadewi Kecil
Sahabat adalah hawa pengisi ruang hampa,
di saat hati gundah dan gelisah
cermin saat tak mampu melihat diri sendiri dan kekurangan
jalinan yang tak dapat dibeli, ditukar dan ditawar-tawar
ciptaan air mata, senyuman, tawa
juga kemarahan menjadi warna yang terjalin
dalam keindahan kebersamaan
selalu ada hadiah, dan kejutan
inspirasi tempat menemukan perasaan menerima juga memberi
dan tidak bersyarat
engkaulah sahabat yang tulus...

Semarang, Desember 2008

Tya, Helga, Erma, Atiq, Kristin....
...ingat hari  saat-saat masih menikmati kebersamaan yang selalu ada warna, kelak suatu saat nanti kita tak duduk bersampingan lagi, tak saling gadeng tangan lagi, karena pada awalnya kita memang tak saling kenal, yah dengan kemauan kita akhirnya saling mengenal, saling lengkapi, pertemuan yang tak pernah terencanakan  tak pernah tahu dan memang bukan untuk diketahui di awal sebelum jumpa. Dulunya yang tak saling kenal kita kelak pulang dengan kenangan  dan  jangan lupa kita pernah membuat lingkaran kecil yang tak bisa ditawar dikemudian hari dengan tangan  kita. thanks semua...

Mahadewi Kecil. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Copyright 2010© Mahadewi Kecil Designed by Cha'unk El Fakir